Kita adalah Makhluk Energi: Rawat Ia Bertumbuh atau Sirna Perlahan
Inti Dari Segala Sesuatu Adalah Energi
Insya Allah, dalam bahasa yang sangat sederhana dan mendasar, kita harus paham tentang energi. Pemahaman yang baik dan mendalam tentang energi akan mengarah pada kehidupan yang lebih baik, yaitu kehidupan yang terlindungi dan terjaga, Insya Allah. Hal ini menjadi sangat sederhana di zaman kita ketika kita mereduksi segala sesuatu menjadi pemahaman tentang energi. Setiap orang memiliki energi dan ada begitu banyak energi yang mengelilingi kita sehingga kita adalah makhluk energi. Kita adalah makhluk spiritual.
Setiap Komunikasi Berlangsung Melalui Energi
Setiap komunikasi berlangsung melalui energi; setiap gelombang radio, gelombang mikro, sinyal dan setiap jenis transmisi – semuanya adalah energi. Ketika Anda mereduksinya hingga ke intinya, itu adalah energi. Energi yang paling kuat adalah manusia, insaan, “Wa laqad karamna Bani Adam,” yang Allah firmankan, “Aku telah memuliakan penciptaanmu.”
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَـٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلْنَـٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍۢ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًۭا ٧٠
wa laqad karramnâ banî âdama wa ḫamalnâhum fil-barri wal-baḫri wa razaqnâhum minath-thayyibâti wa fadldlalnâhum ‘alâ katsîrim mim man khalaqnâ tafdlîlâ (70)
Dan sungguh, Kami telah memuliakan keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. (70)
Al-Isra (17:70)

Salah satu kehormatan hakiki dari penciptaan adalah besarnya pancaran energi yang mengalir dari dalam jiwa, dari eksistensi diri, dari nafs (ego), serta dari segala hal yang ada di sekitar insan (manusia).
Pemahaman yang sangat mendasar mengenai tarekat (jalur spiritual) adalah tentang menyempurnakan energi tersebut. Setiap amalan yang diijazahkan kepada kita, setiap praktik yang diajarkan, setiap tuntunan dari Al-Qur’anul Karim, dari Hadis Nabi, serta seluruh amal dan perbuatan kita—semuanya bermuara pada energi. Semua itu bertujuan untuk membangun energi kita, menyempurnakan kualitasnya, serta membentuk sebuah perisai perlindungan yang agung di sekeliling diri kita.
Pertimbangkan Tindakanmu dan Energi yang Dihasilkannya
Ketika kita mulai berpikir pada tingkat energi, maka kita mulai memahami sebab dan akibat. Jika semua pemikiran saya didasarkan pada energi, maka apakah saya menghasilkan muatan positif yang cukup? Apakah tindakan saya menghasilkan muatan positif? Apakah doa saya, meditasi saya, zakat saya, ibadah haji saya, semua amal saya, semua tindakan saya – apakah semuanya menghasilkan muatan positif yang cukup? Maka saya menyimpan pemahaman mental dalam pikiran dan hati saya tentang kira-kira berapa muatan positif saya.

Kemudian mulailah memperhatikan dan menghitung (hisaab) kehidupan kita dan tindakan kita sehari-hari. Bahwa, ke mana pun saya pergi dan setiap orang yang saya temui dan segala sesuatu yang saya sentuh, juga memiliki muatan energi. Orang-orang yang bekerja dengan saya, orang-orang yang berkomunikasi dengan saya, orang-orang yang bersekolah dengan saya, orang-orang yang bergaul dengan saya – semuanya menghasilkan energi. Nah, jika muatan energi mereka positif, Anda akan merasakan limpahan perasaan baik dan energi baik.
Kamu Bisa Meraih atau Kehilangan Energi Positif
Dengan mendatangi masjid, menghadiri majelis ahlul dzikir (orang-orang yang ahli mengingat Allah), serta mengunjungi tempat-tempat suci, kita akan merasakan pancaran energi positif dan kita tidak terburu-buru untuk beranjak pergi. Mereka memilih untuk berdiam di dalam lingkaran energi tersebut. Jiwa mereka sedang diisi ulang (charged) oleh energi suci itu. Maka kita pun memahami hal ini, karena mereka adalah orang-orang yang peka terhadap energi, ahli tafakkur dan kontemplasi, serta ahli dzikrullah. Sebagaimana firman-Nya, “dzikrullah tathmainnul qulub” (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram, Al-Qur’an, 13:28).

اَلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ ٢٨
alladzîna âmanû wa tathma’innu qulûbuhum bidzikrillâh, alâ bidzikrillâhi tathma’innul-qulûb (28)
Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (28)
Ar-Ra’d (13:28)
Artinya, ketenteraman di dalam kalbu membuat hati menjadi sangat peka dan halus. Melalui sedikit dzikir saja, hati mulai memahami dan merasakan aliran energi. Ia akan langsung tahu ketika mendatangi suatu tempat yang terasa sesak dan berat; hati akan berbisik bahwa tempat yang ia kunjungi ini memiliki energi yang sangat kelam. Kalbu tidak akan pernah berdusta. Ia senantiasa memberi tahu Anda tentang jenis energi yang sedang dipancarkan dari orang-orang, dari lingkungan, ataupun dari lokasi tersebut—bahwa di sana terdapat energi negatif yang sangat pekat.

Jika energinya tidak positif dan tidak memberi asupan bagi jiwamu, maka rumusnya sangat sederhana; energi itu pasti negatif dan sedang menguras dirimu. Artinya, jika kita terlalu sering mendatangi tempat-tempat yang menyedot energi spiritual, maka daya baterai batinmu akan habis. Semakin banyak muatan negatif ini masuk secara terus-menerus, maka seiring dengan mengosongnya daya baterai tersebut, benteng perlindungan spiritual di sekeliling dirimu kini telah runtuh.
Pentingnya Zat Besi dalam Menciptakan Medan Perlindungan
Sekali lagi Anda akan melihat tanda tersebut di dalam dunya (dunia material) dan di dalam diri Anda sendiri.
سَنُرِيهِمْ ءَايَـٰتِنَا فِى ٱلْـَٔافَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ ۗ … ٥٣
sanurîhim âyâtinâ fil-âfâqi wa fî anfusihim ḫattâ yatabayyana lahum annahul-ḫaqq, … (53)
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar … (53)
Al-Fussilat (41:53)

Bumi, yaitu bagian dari dunia, memiliki sebuah medan perlindungan yang mereka sebut sebagai sabuk Van Allen. Mereka mengatakan bahwa sabuk perlindungan tersebut sebenarnya berasal dari inti bumi, yaitu inti magnetik bumi. Bumi berputar bersama inti magnetiknya. Zat besi di dalam inti magnetik tersebut menghasilkan sebuah energi. Energi ini memancar dan menyediakan perlindungan bagi bumi.
Pemurnian Zat Besi Mengantarkan pada Kesempurnaan Energi
Allah mengajarkan, ‘Kamu pun sama’. Kulitmu bagaikan ard (bumi), dan kamu tercipta dari tanah liat.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ مِن سُلَـٰلَةٍۢ مِّن طِينٍۢ ١٢
wa laqad khalaqnal-insâna min sulâlatim min thîn (12)
Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah (air dan tanah). (12)
Al-Mu’minun (23:12)
Dan kita memiliki bahan yang sangat suci di dalam diri kita, yaitu zat besi. Zat besi itulah yang membuat darah berwarna merah. Saat dipompa melalui darah, besi tersebut mengalir ke dalam jantung. Kemudian, zikir jantung—energi jantung—terpahat pada besi tersebut. Energi itu tidak terpahat pada air; air hanya berfungsi mengalirkan energi. Namun, apa yang benar-benar menangkap dan mengikat energi tubuh adalah darah, dan zat besi di dalam darah tersebut.
Kesempurnaan insaan (manusia) serta kesempurnaan dan pemurnian zat besi di dalam tubuh adalah kesempurnaan energinya; medan energinya. Energi yang mulai dihasilkannya ini memberikan perlindungan terhadap serangan.
Waspadalah Terhadap Energimu – Kita Terus-menerus Diserang Hal-hal Negatif

Ketika energi terkuras dan melemah, atau ketika terjadi dosa besar atau pelanggaran terhadap tubuh, seketika itu pula selubung perlindungan akan runtuh. Pada saat itulah setan langsung menusuk dan menyusup karena ia memang selalu menunggu. Sebuah pemahaman mendasar yang diajarkan oleh Nabi adalah bahwa hidupmu berada dalam kondisi kewaspadaan yang konstan. Pada satu titik dalam hidup, kamu akan terbangun dan menyadari bahwa pertempuran melawan setan ini sangatlah nyata, dan pertempuran ini terus-menerus dilancarkan untuk menjatuhkan saya. Ia menunggu saya melakukan satu kesalahan untuk melancarkan serangan penuh.

Anda tentu pernah melihat film di mana sebuah benteng jebol, dan segala jenis setan (shayateen) langsung merangsek masuk melalui lubang tersebut. Begitu serangan setan itu datang, ia mulai mengikis energi seseorang. Serangan ini mulai menjatuhkan kesadaran dan spiritualitas orang tersebut karena musuh kini sedang melumpuhkan kekuatan energi sang hamba.
Energi Negatif Merusak Karakter Diri

Ketika kekuatan energi terus-menerus dikikis hingga melemah, limpahan muatan negatif tersebut mulai mengubah karakter orang tersebut. Mereka menjadi sangat negatif dan sangat pemarah. Tanda dari masuknya energi negatif tersebut adalah zikir yang kini mengalir melalui jantung mereka berubah menjadi zikir (rapalan) bahasa yang keji dan lisan yang kotor. Itu bukan lagi zikir kepada Allah dan pujian kepada Sayyidina Muhammad ﷺ, karena energi negatif telah mengambil alih tubuh tersebut.
Para guru spiritual mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan apa yang terjadi di luar sana. Saat Anda menyalakan TV atau menonton film, Anda melihat bagaimana mereka berbicara seperti itu tanpa henti, bukan?! Zikir mereka adalah kata-kata kotor, dan setiap kata yang keluar dari mulut mereka adalah kutukan. Ini berarti setan telah bersemayam di dalam hati mereka, dan seluruh zikir mereka adalah zikir kepada setan. Itulah satu-satunya energi yang mereka produksi.
Bersihkan Energimu Dengan Memohon Ampunan Ilahi
Maka dari itu, hal ini sangatlah nyata bagi kita. Jika hati saya dipenuhi dengan cinta kepada Allah dan cinta kepada Sayyidina Muhammad ﷺ, maka hati ini seharusnya disibukkkan dengan memohon ampunan kepada Allah, memuji Sayyidina Muhammad ﷺ, serta senantiasa melantunkan salawat kepada Nabi ﷺ, bersalawat kepada Nabi ﷺ, dan memohon ampunan dari Allah.
وَلَوۡ اَنَّهُمۡ اِذْ ظَّلَمُوۡۤا اَنۡفُسَهُمۡ جَآءُوۡكَ فَاسۡتَغۡفَرُوا اللّٰهَ وَاسۡتَغۡفَرَ لَـهُمُ الرَّسُوۡلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّابًا رَّحِيۡمًا ٦٤
… walau annahum idz dhalamû anfusahum jâ’ûka fastaghfarullâha wastaghfara lahumur-rasûlu lawajadullâha tawwâbar raḫîmâ (64)
Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang. (64)
An-Nisa (4:64)
Aku tahu bahwa aku terus melakukan kesalahan dimana-mana. Aku tidak mengaku tahu akan segala hal. Aku tidak mengaku telah menjadi sempurna. Ya Rabbi, astaghfirullah al-Azim (Aku memohon ampunan-Mu, Wahai Yang Maha Agung). Hakikat dari Sifat al-Azim (Sifat Yang Maha Agung) adalah bahwa dari segala Keperkasaan-Mu, Keagungan-Mu, dan Kemurahan-Mu, anugerahkanlah istigfar-Mu kepadaku, ya Rabbi.

Aku bukanlah apa-apa bahkan tidak terlihat sama sekali di seluruh alam semesta-Mu. Jika dilihat dari batas (had) penciptaan, dari titik tertinggi alam semesta ini, galaksi kita, lalu melihat ke bumi ini, kita bahkan tidak tampak. Itu berarti, ‘Ya Rabbi, aku bukanlah apa-apa di Hadapan-Mu, anugerahkanlah ampunan-Mu kepadaku, anugerahkanlah ampunan-Mu kepadaku.’ Ini berarti bahwa zikir-zikir kita memiliki kekuatan. Dengan beristigfar, kita memohon ampunan Allah. ‘Atas segala kekuranganku yang aku ketahui, maupun kekuranganku yang tidak aku ketahui, anugerahkanlah Maghfirah-Mu (ampunan-Mu) kepadaku.’
Dan apakah jawaban Allah? Sudah sangat pasti—sebagaimana Anda mengenali punggung tangan Anda sendiri—Anda tahu bahwa Allah berfirman, ‘Jika engkau meminta kepada-Ku, niscaya engkau akan menerima.’
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ١٨٦
wa idzâ sa’alaka ‘ibâdî ‘annî fa innî qarîb, ujîbu da‘watad-dâ‘i idzâ da‘âni falyastajîbû lî walyu’minû bî la‘allahum yarsyudûn (186)
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (186)
Al-Baqarah (2:186)

Begitu kita berucap, “Astaghfirullah al-Azim wa atubu ilayh, ya Rabb” (Aku memohon ampunan-Mu Wahai Allah, Yang Maha Agung, dan aku bertobat), jawaban Allah adalah, “Bismillahir Rahmanir Raheem” (Dengan Menyebut Nama-Ku Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), ‘Aku mengampunimu; Aku mengampunimu; Aku mengampunimu’.
Ketika Energimu Telah Bersih, Mengabdilah kepada Makhluk Allah
Maka sepanjang hari, sibukkanlah diri dengan istigfar: astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. Setelah kita membersihkan dan terus menyucikan diri sendiri, bersihkan pula orang-orang yang kita cintai, serta setiap orang yang kita kenal di komunitas kita. Sebab, setiap orang yang berinteraksi dengan kita, energinya akan memengaruhi kita.
Sekali lagi, pemahaman energi yang sangat mendasar adalah ketika Anda memancarkan muatan positif, maka muatan positif tersebut secara alami akan menarik muatan negatif, karena dua muatan positif akan saling menolak. Jadi, muatan positif itu keluar dan muatan negatif akan tertarik mendekat. Itulah yang digambarkan oleh Allah sebagai sebuah khidmat (pengabdian/pelayanan). ‘Jika Aku menganugerahkan kepadamu muatan positif, maka engkau bertanggung jawab atas saudaramu.’ Jika Anda memiliki kelimpahan muatan positif (cahaya spiritual), Anda memikul tanggung jawab. Ketika Anda berjalan di antara umat manusia, energi negatif mereka akan menyelimuti Anda.
Oleh karena itu, zikir kita saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah tanggung jawab. Ini adalah bagian dari Khidmat Ilahi, kecuali jika Anda memilih untuk dipenuhi oleh beban energi negatif. Maka, cukup dengan memahami konsep energi ini, (kita berdoa): “Ya Rabbi, selimutilah aku dengan cahaya-cahaya positif ini, selimutilah aku dengan cahaya-cahaya positif ini.”
Pujian dan Amalan Spiritual Adalah untuk Perlindungan Kita
Kemudian para mursyid (pembimbing spiritual) mulai mengajarkan bahwa zikirmu, auradmu (wirid harian), dan selawatmu, semuanya adalah benteng perlindungan bagimu. Amalan-amalan itu adalah selimut (libas) dan keberkahan atas jiwamu, sehingga engkau mulai menyucikan dan menyempurnakan cahaya tersebut. Mereka lalu mengajarkan bahwa ke mana pun engkau melangkah, di sana selalu ada cahaya, di sana selalu ada energi.
Maka mulailah melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan perhitungan; apakah energi yang terpancar keluar ini bersifat positif? Jika iya, alhamdulillah, berarti perkumpulan dan waktu tersebut membawa muatan positif. Namun, jika ke mana pun aku pergi yang ditemui hanyalah muatan-muatan negatif, maka aku harus meningkatkan zikirku, aku harus menambah istigfarku, dan aku harus memperbanyak selawatku. Aku harus terus-menerus menjaga wudu, dan aku harus pulang ke rumah untuk membersihkan diri atau mandi. Jika limpahan energi negatif di luar sana terlampau banyak, terlampau berat—terlalu banyak orang yang sakit (ruhaninya), terlalu banyak orang yang dirundung rasa hasad (dengki)—maka engkau wajib membasuh diri, engkau harus mandi. Engkau harus meluruhkan semua muatan negatif tersebut.
Segala Sesuatu Menghasilkan Energi – Baik Positif Maupun Negatif
Kemudian para mursyid mulai mengajarkan kepada kita bahwa ketika engkau telah memiliki pemahaman yang sangat kuat tentang energi, mereka akan mengajarkan bahwa segala sesuatu menghasilkan energi. Maka, jika engkau menyaksikan suatu tayangan, seperti Hub-e-Rasul, Muhammadan Way, atau Sufilive di YouTube dan Mawlana Syekh sedang memimpin zikir, engkau akan merasakan muatan positif tersebut. Engkau dapat merasakan energinya, engkau merasakan getaran spiritualnya (wajd), karena ada para malaikat yang turun menghadiri; jiwa-jiwa kaum mukmin hadir memancar. Seluruh energi tersebut mengalir deras dan engkau pun merasakan limpahan muatan cahayanya. Dari sana engkau menyadari bahwa dalam setengah jam selama engkau menyaksikan tayangan tersebut, dirimu telah dipenuhi oleh muatan positif.

Sekarang, sebaliknya, mari kita lihat apa yang terjadi jika kita menyaksikan tayangan televisi yang negatif dan mengerikan. Engkau terus menontonnya; engkau terus menonton dan menontonnya lagi; ke manakah energi itu pergi? Lalu tambahkan lagi di atas semua itu dengan suara-suara yang buruk, suara-suara yang bising dan mengerikan; ke manakah energi itu pergi?
Ini adalah konsep energi yang sangat sederhana. Sebab, sebelum engkau membahas hal ini menggunakan istilah keagamaan yang terlalu kaku, orang-orang mungkin akan berkata, “Oh Syekh, Anda tahu, itu terdengar seperti hal-hal gaib atau takhayul.” Tidak! Ini adalah prinsip energi yang sangat mendasar. Ketika engkau mendengarkan seseorang mencaci maki dan mengumpat sepanjang hari, ke manakah energi kutukan dan caci maki itu pergi? Energi itu masuk menyusup ke dalam hatimu; ia meresap ke dalam seluruh eksistensi wujudmu. Lalu, bagaimana engkau akan membebaskan dirimu dari belenggu kesulitan tersebut? Bagaimana engkau akan menyucikan diri dan membersihkan jiwamu (tazkiyah) dari noda-noda hitam itu?
Melakukan Muhasabah adalah Tanda Kematangan Spiritual – Rijalullah
Artinya, kita harus senantiasa melakukan muhasabah (menghitung amal) terhadap diri sendiri dan memperhatikan setiap muatan energi yang masuk ke dalam diri. Inilah konsep dari tumbuh dewasa secara spiritual. Sebuah konsep untuk keluar dari kelalaian (gaflah) dan melangkah menuju maqam Rijalullah (Para Kekasih Allah). Apa yang membentuk seorang hamba menjadi Rijalullah—baik ia seorang laki-laki maupun perempuan—artinya adalah mereka sedang memasuki gerbang kematangan spiritual. Ketika engkau memasuki fase kematangan ini, engkau mulai menyadari bahwa segala sesuatu memiliki konsekuensi.

Apa pun yang sedang aku lakukan, kemungkinannya hanya dua: aku sedang memproduksi energi atau justru sedang kehilangan energi. Jika aku mendengarkan suara-suara (buruk) ini, sudah sangat pasti aku sedang kehilangan energi spiritualku. Mengapa? Karena setan sedang berada di dekatku, terus-menerus merapalkan mantra dan bisikan kesesatannya (waswas). Ketika aku mendengarkannya, aku menyerap energi negatif tersebut, dan seketika itu pula cahaya energi positifku akan merosot jatuh.
Kita Mengisi atau Kehilangan Energi Melalui Setiap Tindakan
“Qul ja al-haqq wa zahaq al-batil.” (Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Al-Qur’an, Surah Al-Isra, 17:81). Pilihannya hanya dua: apakah Al-Haqq (kebenaran/cahaya) yang datang merasuk dan kebatilan sirna, atau engkau yang mengundang kebatilan masuk sehingga Al-Haqq itu beranjak pergi; sebab keduanya tidak akan pernah bisa bersemayam di dalam satu tempat yang sama.
وَقُلْ جَآءَ ٱلْحَقُّ وَزَهَقَ ٱلْبَـٰطِلُ ۚ إِنَّ ٱلْبَـٰطِلَ كَانَ زَهُوقًۭا ٨١
wa qul jâ’al-ḫaqqu wa zahaqal-bâthilu innal-bâthila kâna zahûqâ (81)
Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. (81)
Al-Isra (17:81)
Oleh karena itu, ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk dan ada seseorang yang tersulut amarahnya, Rasulullah ﷺ akan langsung berdiri dan berjalan menjauh. Beliau bersabda, “Aku tidak bisa berada di dekat setan.” Begitu engkau kehilangan akhlak mulia dan pengaruh setan mulai masuk merasuki, maka hakikat (haqiqah) serta kehadiran ruhani Rasulullah ﷺ pun akan mulai bergeser meninggalkan tempat tersebut.
Jika Sering Menyaksikan Tayangan yang Buruk, Kamu Akan Mulai Menirunya

Kemudian para mursyid mulai mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu memiliki konsekuensi. Apa yang engkau lakukan, apa yang engkau dengar, dan apa yang engkau tonton, semuanya sedang menyelimuti jiwamu. Jika engkau terlalu banyak menyaksikan tayangan yang rusak dan melalaikan ini, engkau secara tidak sadar akan mulai meniru dan meneladani mereka. Engkau dapat melihat bagaimana orang-orang berubah. Mereka menonton film tentang geng motor yang liar, lalu mereka mulai memakai cincin-cincin seperti yang mereka kenakan. Mereka mulai berbicara seperti cara mereka berbicara, dan mereka mulai berjalan serta berpakaian seperti cara mereka berpakaian. Mereka tidak menyadari bahwa diri mereka sedang dipengaruhi oleh realitas setan, dan energi tersebut mulai menyelimuti mereka karena memang hanya itulah yang diinginkan oleh Setan.

Pergilah ke Majelis Dzikir – Mereka adalah Lingkaran Penyucian Ruhani

Kemudian para mursyid (pembimbing spiritual) mulai mengajarkan, “Perbanyaklah istighfar (memohon ampunan); hidupkan dzikirmu, dan pastikan dirimu hadir di dalam majelis-majelis dzikir.” Majelis dzikir adalah sebuah nikmat dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sarana penyucian dan pembersihan ruhani. Majelis-majelis tersebut adalah lingkaran pembasuh dosa. Setiap orang datang dengan membawa beban spiritual mereka masing-masing, lalu membawa beban tersebut ke dalam zawiyah (Tempat Khalwat dan Ibadah).

Alhamdulillah, dengan berkah (barakah) Sultan al-Awliya Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Haqqani dan khalifah (perwakilan) beliau, Mawlana Shaykh Hisham Kabbani, mereka mengemban tanggung jawab ini dan doa mereka terus mengalir. Pandangan spiritual (nazar) Rasulullah senantiasa menatap, serta Pertolongan Allah senantiasa bergerak dan turun menaungi. Begitu Pertolongan Allah datang, segala energi negatif dan kegelapan hati seketika sirna. Oleh karena itu, terdapat proses penyucian yang sangat luar biasa di dalam majelis-majelis tersebut.
Menjadi Rijal (Matang secara Rohani) – Kamu Bertanggung Jawab Melindungi Keluargamu
Para mursyid (pembimbing spiritual) mulai mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang kita lakukan adalah tentang energi (nur/daya spiritual). Ketika aku mulai melakukan instrospeksi diri (muhasabah), “Ya Rabbi, apakah hari ini aku membangun energi spiritualku? Apakah aku sudah meminimalkan hilangnya daya positif akibat muatan negatif? Apakah hari ini aku melihat hal-hal yang tidak senonoh, buruk, dan mengerikan, atau mendengarkan hal-hal yang keji? Sungguh, aku telah kehilangan daya spiritualku hari ini.” Jika Anda tidak memiliki daya spiritual pada hari itu, maka tidak ada benteng perlindungan bagi rumah Anda dan keluarga Anda.
Kamu Bertanggung Jawab Atas Energi dan Perlindungan Keluargamu
Lalu, siapakah Anda dalam pandangan Rasulullah? Anda belum dianggap sebagai seorang pria sejati (Rijal). Seorang pria sejati adalah mereka yang memiliki pancaran energi nur dan memiliki benteng spiritual untuk melindungi dirinya sendiri, istrinya, dan anak-anaknya dengan energi tersebut. Ini bukan tentang hidup sendiri-sendiri demi keselamatan pribadi. Ini adalah tentang membangun energi spiritual Anda, membangun benteng perlindungan Anda. Ketika Anda memiliki daya yang cukup untuk diri sendiri, cukup untuk hakikat kesadaran Anda, dan cukup untuk segala hal; barulah Anda bisa memahami mengapa Rasulullah bersabda, “Ummati, ummati, ummati” (Umatku, umatku, umatku). Rasulullah tidak pernah mengajarkan umatnya untuk egois, hanya menyelamatkan diri sendiri sementara yang lain masuk ke dalam neraka Jahannam!
Inilah makna dari Rijal (pria-pria pilihan Allah) dan apa yang mereka ajarkan untuk menghadapi apa yang akan datang. Apa yang sedang mendekat dan mulai terungkap di dunia ini adalah ujian serta kesulitan yang tak terbayangkan. Jika lingkaran perlindunganku hanya cukup untuk diriku sendiri lalu siapakah yang akan melindungi istri dan anak-anakku? Atau bagi para istri, siapakah yang akan melindungi anak-anak mereka jika mereka tidak memiliki suami? Artinya, amal setiap orang harus cukup kuat untuk membentengi dirinya sendiri, dan mereka harus melakukan hisaab (evaluasi diri) setiap hari: “Ya Rabbi, apakah kebaikan yang kulakukan sudah cukup? Apakah amalku sudah baik? Apakah cintaku kepada Rasulullah sudah kuat? Apakah aku istiqamah mengamalkan wazifahku, apakah aku membaca awradku, apakah aku membaca juz Al-Qur’anku? Apakah aku membaca kitab Dalail al-Khayrat-ku? Apakah aku sudah mengupayakan segala hal yang aku mampu? Jika belum, anugerahkanlah kepadaku himmah (tekad dan semangat kuat) untuk berbuat lebih banyak lagi.”

Bangun Energi Spiritualmu dengan Meningkatkan Amalan Ruhani
Anda mulai memahami pentingnya pengisian daya energi spiritual, hingga akhirnya sifat tidak mementingkan diri sendiri (isyrar/keikhlasan) mulai terbuka di dalam kalbu. “Ya Rabbi, saat ini aku merasa belum bisa membentengi orang-orang yang kucintai. Siapa yang akan menjaga mereka? Energi seperti apa yang akan melindungi mereka? Apa yang akan terjadi pada mereka semua?” Kesadaran inilah yang seharusnya membuat ibadah kita terus ditingkatkan, dan ditingkatkan lagi, karena sejatinya kita adalah makhluk ruhani, bukan sekadar makhluk jasmani.
Sekarang, jika Anda menyalakan televisi, Anda akan melihat orang-orang yang materialistis (hanya mengandalkan kekuatan fisik) sibuk membeli senjata. Mereka tidak hanya membeli satu pucuk senjata, mereka membeli 10 senjata, 50 senjata, hingga puluhan ribu butir amunisi—semua ini lahir dari tipisnya iman. Mereka mengira kesulitan besar yang menakutkan di masa depan dapat diselesaikan dengan kekuatan fisik semata karena mereka tidak memiliki iman di dalam dada. Allah berfirman, “Apa yang akan datang nanti, seluruh senjata di dunia ini tidak akan mampu menolongmu jika Cinta-Ku tidak bersemayam di dalam kalbumu dan jika Aku belum menandai (meridhai) hatimu.” Jika Rasulullah belum menandai hati itu, jika para awliyaullah (kekasih Allah) belum menandai hati tersebut, bahkan jika Anda memanggul sebuah bazoka sekalipun, itu semua tidak akan pernah bisa menyelamatkan Anda.

Prinsipnya sangat sederhana: bangun energi spiritualku, sempurnakan energi spiritualku. Kemudian, mulailah menumbuhkan rasa tanggung jawab bahwa anak-anak tidak bisa dibiarkan berjuang sendirian; akulah yang bertanggung jawab atas mereka. Istriku pun tidak bisa dibiarkan sendirian; akulah yang bertanggung jawab atas dirinya. Aku harus meningkatkan ibadahku dan memperhebat pengabdian ruhaniku, jika aku ingin meyakini bahwa Allah telah ridha kepadaku.
Bencana Ada di Mana-mana – Sudahkah Hubunganmu Baik dengan Sang Khalik?
Berbagai ujian dan kesulitan sedang berdatangan. Lihatlah lewat media online dan TV, perhatikan setiap negara di dunia dan apa yang sedang terjadi di berbagai belahan bumi. Di setiap benua dan berbagai negara, peperangan berkecamuk, banjir bandang melanda, dan bencana datang silih berganti.
“Ya Rabbi, sudahkah hubungan pribatuku baik dengan-Mu? Sudahkah aku baik di hadapan Rasulullah? Sudahkah aku diridhai oleh para Ulul amr—baik mereka yang gaib maupun yang nyata dari kalangan Rijalullah (para kekasih Allah)—apakah mereka ridha dan bahagia denganku?” Jawabannya sangat sederhana; jika mereka ridha kepadamu, engkau pasti akan bisa melihat kehadiran mereka. Sebab, ketika Ridha Allah dan kebahagiaan-Nya telah menyelimuti (meninggikan) derajatmu, engkau pasti akan diberi kemampuan untuk melihat; engkau akan menjadi bagian dari Ahlul Bashirah, yaitu orang-orang yang mata batin dan kalbunya telah dibukakan oleh Allah.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ … ٥٩
yâ ayyuhalladzîna âmanû athî‘ullâha wa athî‘ur-rasûla wa ulil-amri mingkum, … (59)
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu, … (59)
An-Nisa (4:59)
Bersamalah Dengan 4 Golongan Manusia Pilihan
Allah memiliki empat golongan (manusia pilihan): Nabiyyin (Para Nabi), Shiddiqin (Orang-Orang yang Benar), Syuhada (Para Saksi Spiritual), dan Shalihin (Orang-Orang Saleh). Mereka senantiasa bersama Allah (berada dalam kedekatan spiritual yang karib dengan-Nya).
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا ٦٩ )
wa may yuthi‘illâha war-rasûla fa ulâ’ika ma‘alladzîna an‘amallâhu ‘alaihim minan-nabiyyîna wash-shiddîqîna wasy-syuhadâ’i wash-shâliḫîn, wa ḫasuna ulâ’ika rafîqâ (69)
Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (69)
An-Nisa (4:69)
Mereka senantiasa bersama Allah. Siapa pun yang mengklaim, “Tidak, aku langsung bersama Allah,” maka Allah akan berfirman, “Baiklah, kalau begitu apakah engkau termasuk golongan Nabiyyeen (Para Nabi)?” Ia menjawab, “Bukan.” “Apakah engkau termasuk golongan Shiddiqin (Orang-Orang yang Benar)?” Ia menjawab, “Bukan.”

Maka, kita hanya memiliki dua pilihan: menjadi bagian dari golongan Syuhada (Mereka yang Menyaksikan Hakikat Batin) atau Shalihin (Orang-Orang Saleh). Artinya, dalam setiap majelis atau perkumpulan spiritual, jika mereka menganggap diri mereka termasuk golongan Shalihin, maka harus ada Ahlul Bashirah (orang yang mata batinnya terbuka) di antara mereka. Harus ada seseorang yang telah mencapai maqam Shuhud (mampu menyaksikan hakikat spiritual) dan kalbunya telah dibukakan. Apa yang disaksikan oleh ahli Shuhud tersebut adalah golongan di atasnya, yaitu sang Siddiq (Orang yang Benar/Mursyid Kamil). Ia harus bisa menyaksikan secara ruhani para Syekh dan para pembimbing agung tarekat (jalan spiritual), baik Sayyidina Ali bin Abi Thalib maupun Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq. Dari maqam Shiddiq itulah, mereka terhubung langsung secara batin dengan Rasulullah.
Jika amal mereka benar, perbuatan mereka benar, dan ibadah mereka benar, maka Allah akan menandai (meridhai) keikhlasan mereka. Ketika mereka mengamalkan amalan spiritual mereka, kalbu mereka harus bisa menyaksikan kehadiran ruhani guru spiritualnya. Dan ketika sang guru ridha kepada mereka, ketika Mawlana Syekh ridha kepada mereka, maka kalbu mereka harus bisa menyaksikan kehadiran Sayyidina Muhammad.

Setidaknya pada tingkatan itulah, Islam seseorang mulai memasuki hakikat yang sesungguhnya. Sebab, segera setelah Anda mengikrarkan di dalam setiap salat Anda, “Asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah), itu artinya Anda sedang menyatakan, “Aku bersaksi, aku melihat Sayyidina Muhammad ﷺ.” Jadi, pada awalnya hal itu merupakan sebuah peniruan hingga kelak berubah menjadi sebuah kenyataan hakiki (kasyaf).
Oleh karena itu, siapa pun yang mengira kelompok mereka adalah orang-orang saleh (Salihin) dan perbuatan mereka adalah amal saleh, maka mereka harus memiliki pembimbing dari kalangan Syuhada (Ahli Penyaksian Ruhani). Mereka harus memiliki seseorang yang kalbunya telah dibukakan oleh Allah. Sebagai hasilnya, berkat kalbunya yang telah terbuka, orang-orang saleh (Salihin) yang mengikutinya pun akan dibukakan kalbunya. Karena latihan spiritual (riyadhah) dan amalan dari orang yang telah terbuka mata batinnya itulah yang ia ajarkan kepada para Salihin, sehingga mereka kelak dapat naik tingkatan menjadi golongan Syuhada dan terhubung dengan pancaran energi spiritual para Siddiq. Lalu, para Siddiq tersebut akan mengantarkan Anda langsung ke hadapan Sayyidina Muhammad ﷺ.
Maka pada saat itu, shalat Anda dan Islam Anda menjadi nyata, di mana Anda benar-benar menyaksikan kehadiran Rasulullah ﷺ. Ketika Anda mengucapkan, “Assalamu ‘alaika ayyuhan Nabiyyu” (Salam sejahtera atasmu wahai Nabi), Anda benar-benar menyaksikan Baginda Nabi ﷺ melalui mata kalbu Anda. Dan saat itu pula, Rasulullah ﷺ sedang berada di dalam Hadirat Suci Ilahi.
Memahami Hakikat A’udzu Billah – Memohon Perlindungan Kepada Sang Khalik
Ini adalah pemahaman mendasar tentang “A’udzu Billah” ketika kita mengucapkan, “A’udzu Billahi Minasy Syaythanir Rajim” (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk). Kita sedang memohon A’udzu Billah, memohon, “Ya Rabbi, aku mencari tempat berlindung di hadirat-Mu dari setiap setan.” Ini adalah prinsip dasar energi spiritual. Jika Anda tidak sedang mencari perlindungan, berarti Anda secara tidak sadar sedang mengundang setan masuk. Jika apa pun yang Anda lakukan tidak mencerminkan upaya berlindung dari setan, ketahuilah bahwa Anda sedang mengundang setan. Maka, tindakan seperti itu bukanlah A’udzu Billah, melainkan duduk bersanding bersama setan. Ini hukum energi yang sangat mendasar: apakah aku sedang menolak (energi negatif) atau justru sedang mengundangnya?
Kemudian, ketika aku benar-benar menolak setan, aku akan memohon kepada Allah, “Ya Rabbi, tempatkanlah aku bersama orang-orang yang Engkau ridhai. Aku memohon Perlindungan-Mu, aku memohon untuk berada di bawah Naungan Rahmat-Mu.” Maka, Allah mulai mengilhamkan ke dalam kalbu, “Naungan-Ku dan Perlindungan-Ku ada bersama Sayyidina Muhammad ﷺ.” Sebagaimana firman-Nya: “Qul in kuntum tuhibbun Allaha fattabi’uni, yuhbibkumullah.”
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ ٣١
qul ing kuntum tuḫibbûnallâha fattabi‘ûnî yuḫbibkumullâhu wa yaghfir lakum dzunûbakum, wallâhu ghafûrur raḫîm (31)
Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (31)
Al-‘Imran (3:31)

Allah berfirman, “Jika engkau menginginkan perlindungan itu, maka engkau harus bersama Sayyidina Muhammad ﷺ.” Oleh karena itu, hakikat dari bulan Muharam (awal tahun penanggalan Islam) adalah hakikat dari terbukanya pancaran energi-energi spiritual ini, di mana pada setiap hembusan nafas kita memohon untuk berserah dan berlindung. Dan satu-satunya tempat berlindung yang kita dambakan adalah berada bersama Sayyidina Muhammad ﷺ, berada di lingkungan para pencinta Sayyidina Muhammad ﷺ, menjadi bagian dari Ashabul Kahfi (para penjaga gua spiritual) bagi Sayyidina Muhammad ﷺ, dan senantiasa bersama para ‘asyiqin (orang-orang yang benar-benar sangat mencintai Sayyidina Muhammad). Lalu, siapakah mereka itu? Mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam firman-Nya: “Atiullah, wa ati ar-Rasul wa Ulul amrin minkum” (Taatilah Allah, taatilah Rasul-Nya, dan para pemegang otoritas spiritual/pemimpin di antara kamu).
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ … ٥٩
yâ ayyuhalladzîna âmanû athî‘ullâha wa athî‘ur-rasûla wa ulil-amri mingkum, … (59)
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu, … (59)
An-Nisa (4:59)

Mereka adalah para Ulul amr (kekasih Allah/para wali). Alhamdulillah, kita berada di bawah panji spiritual Sultan al-Awliya Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Haqqani. Beliau adalah pemimpin dari para Ulul amr di seluruh muka bumi ini—itulah keyakinan kami. Dan salah satu khalifah (perwakilan) beliau yang berkedudukan paling tinggi adalah Mawlana Shaykh Hisham Kabbani. Maka, alhamdulillah, kita memiliki rasa cinta kepada mereka, meneladani kehidupan mereka, menempuh jalan bimbingan mereka, dan kita senantiasa memohon untuk berpegang teguh pada tali tersebut. Seraya berdoa, “Ya Rabbi, bimbinglah aku untuk memahami energi spiritualku, membangun daya spiritualku, hingga mencapai kesempurnaan energi dalam diriku.”
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ … ١٠٣
wa‘tashimû biḫablillâhi jamî‘aw wa lâ tafarraqû, … (103)
Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, … (103)
An-Nisa (3:103)
Memahami Kekuatan Hasad dan Energi Negatif
Selanjutnya, kita mulai memahami tentang energi negatif. Seberapa besar energi negatif yang mampu dihasilkan oleh manusia. Betapa pentingnya untuk memahami bahaya dari sifat hasad (dengki/iri hati). Ketika kita menyadari betapa kuatnya diri kita sebagai makhluk spiritual yang berbasis energi, kita juga harus memahami betapa dahsyatnya kekuatan hasad dan jenis energi buruk seperti apa yang terpancar dari sifat dengki tersebut. Dengan kesadaran inilah, kita mulai menjaga kehidupan kita dengan cara yang tepat. Waspadailah tempat yang Anda kunjungi, waspadalah dengan siapa Anda berbicara, dan jagalah perbuatan yang Anda lakukan, karena segala bentuk negativitas itu senantiasa mengintai di sekitar kita.
Jalan (tarekat) kita adalah jalan ketundukan yang penuh ketawaduan, jalan yang menjaga diri agar tidak menonjol (low profile), sebuah jalan untuk tidak memancing perhatian ataupun terlibat dalam berbagai kemelut duniawi. Jalan kita adalah untuk membangun diri kita sendiri, memperkuat amalan spiritual kita, serta senantiasa waspada agar tidak mengundang energi negatif masuk ke dalam kehidupan kita.
