Meraih Kekuatan Malakut: Daya Kekuatan Malakut adalah Energi
Kita Mencari Kebenaran Hikiki dan Hadirat Malakut
Apa yang kita cari adalah Karunia Ilahi dan Rahmat-Nya. Energi Ilahi inilah yang kita kenal sebagai kehadiran malakut. “Bismillahir Rahmanir Rahim. Qul ja al Haqq wa zahaq al-batil.”
وَقُلْ جَآءَ ٱلْحَقُّ وَزَهَقَ ٱلْبَـٰطِلُ ۚ إِنَّ ٱلْبَـٰطِلَ كَانَ زَهُوقًۭا ٨١
wa qul jâ’al-ḫaqqu wa zahaqal-bâthilu innal-bâthila kâna zahûqâ (81)
Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. (81)
An-Nisa (17:81)
Apa yang mereka sebut sebagai kebenaran ini memiliki banyak tingkatan pemahaman. Namun, tingkat paling mendasar bagi kita, yang diajarkan oleh Mawlana Syaikh, adalah bahwa Rahmat Ilahi ini merupakan sebuah kekuatan malakut. Segala hal yang sedang kita upayakan dalam menapaki jalan spiritual adalah untuk menghadirkan kelimpahan kekuatan malakut tersebut ke dalam eksistensi diri kita.
Energi Malakut Mengikis Kebatilan
Dari ayat Al-Qur’an yang suci (17:81), para Awliyaullah (kekasih Allah/para wali) mengambil dari lubuk hati Rasulullah ﷺ: “Qul ja’al-haq” (Katakanlah, telah datang kebenaran). Sesungguhnya, ketika kebenaran itu datang dan berhadapan langsung dengan kebatilan, kebenaran tersebut akan menghancurkan dan melenyapkan kebatilan itu hingga sirna. Dan kebatilan, demi kodratnya, pasti akan selalu hancur binasa. Ini bermakna bahwa kebatilan saat berhadapan dengan Hakikat Ketuhanan (Hakikat Ilahiyah) adalah dua hal yang saling bertolak belakang. Kebatilan pada hakikatnya hanyalah sebuah kondisi di mana tidak adanya Cahaya Ilahi (Nur Ilahi), Hakikat Ilahiyah, dan daya kekuatan malakut (quwwah malaikiyyah).

Hakikat Ilahiyah, agar dapat kita pahami dalam istilah yang sangat sederhana, adalah kelimpahan dari energi malaikat. Ketika energi malaikat itu datang, ia mewujud sebagai Cahaya Ilahi (Nur Ilahi) dan Karunia Ilahi (Fadhl Ilahi). Ketika energi tersebut hadir, demi kodratnya, ia akan mengikis dan mengusir kebatilan, segala hal yang bersumber dari ego (nafs) dan keinginan buruk (hawa nafsu), serta energi negatif. Tujuan utama hidup kita sebagai para pencari spiritual (salik) adalah memenuhkan diri kita dengan daya kekuatan malaikat tersebut. Daya kekuatan malaikat ini datang membawa cahaya yang begitu agung dan limpahan berkah yang begitu dahsyat, sehingga saat ia mulai mendekat, ia akan mulai mendesak dan mengeluarkan seluruh energi negatif dari dalam eksistensi diri kita.
Bagaikan Bus, Kita Mengangkut Banyak Energi Negatif
Diri kita ini ibarat sebuah bus; wujud jasmani kita mengangkut banyak “penumpang” di sepanjang hari. Banyak energi negatif yang masuk ke dalam diri dan menduduki jiwa kita—sebagian besarnya kita undang sendiri (melalui kelalaian), dan sebagian lainnya datang tanpa kita kehendaki. Energi-energi negatif ini datang dan mulai memenuhi rongga batin kita. Pada titik itulah, kita sangat membutuhkan pasokan energi positif.
Jalan untuk memperoleh daya kekuatan malaikat (quwwah malaikiyyah) ini adalah dengan senantiasa menjaga kedekatan dan berdampingan (sohbah) bersama orang-orang yang memancarkan serta membawa kelimpahan energi positif tersebut.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوۡنُوۡا مَعَ الصّٰدِقِيۡنَ ١١٩
yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha wa kûnû ma‘ash-shâdiqîn (119)
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bergabunglah kamu bersama dengan orang-orang yang benar. (119)
At-Tawbah (9:119)
Ini bermakna bahwa dengan menghadiri majelis-majelis zikir (majalisul dzikr), bergabung ke dalam lingkaran zikir dan salawat (halaqah dzikr), serta melantunkan awrad (wirid) yang telah diajarkan oleh para mursyid (pembimbing spiritual), mereka sejatinya mendatangkan daya kekuatan malaikat dan menghadirkan energi malaikat. Ketika energi tersebut mulai memancar, ia akan mulai mengalir dan meresap masuk ke dalam lubuk hati (qalb).
Siapa yang Menguasai Hati, Ia Mengendalikan Seluruh Eksistensi Diri

Titik spiritual (cakra) yang menjadi perhatian utama para Sufi adalah cakra hati, yang dikenal sebagai Lathaif al-Qalb. Maknanya adalah, siapa pun yang menempati dan menguasai hati seseorang, maka ia memegang kendali atas seluruh eksistensi diri manusia tersebut. Jika seseorang mencengkeram kakimu, ia tetap belum memiliki dirimu sepenuhnya. Namun, jika mereka telah merebut hatimu, maka mereka telah mengendalikan seluruh eksistensi dirimu. Oleh karena itu, Allah Yang Maha Kuasa (Al-Haqq) mengajarkan sebuah hakikat, ‘Aku bersemayam di dalam hati hamba yang mencintai-Ku.’
مَا وَسِعَنِيْ لَا أَرْضِيْ وَلَا سَمَائِيْ وَلَكِنْ وَسِعَنِيْ قَلْبُ عَبْدِيَ الْمُؤْمِنِ
Mā wasi‘anī lā ardhlī wa lā samā’ī, wa lākin wasi‘anī qalbu ‘abdiyal-mu’min
Tidak dapat memuat-Ku baik bumi-Ku maupun langit-Ku, namun hati hamba-Ku yang beriman mampu memuat-Ku.
(Hadits Qudsi)
Ini bermakna bagi kita, hal tersebut merupakan simbol dari pusatan fokus batin; bahwa kita sedang memohon agar Kerajaan Ilahi (Malakut), Cahaya Ilahi (Nur Ilahi), cahaya yang disucikan, serta daya kekuatan malaikat masuk dan meresap ke dalam lubuk hati kita. Oleh karena itu, fokus dari seluruh energi, fokus dari setiap lathaif (titik spiritual), dan muara dari segala bentuk amalan batin adalah doa: “Ya Rabbi, Wahai Tuhanku, pancarkanlah dan alirkanlah cahaya itu ke dalam hatiku.”
Memperkukuh Qalbu demi Menampung Energi Ilahi

Oleh karena itu, segala hal yang diajarkan oleh para mursyid (pembimbing spiritual) melalui zikir, wirid, dan meditasi (muraqabah)—semua amalan ini bertujuan untuk menghadirkan energi tersebut dan mengalirkannya. Saat aliran energi itu mulai masuk, ia akan mengikis dan mengusir segala energi negatif. Seluruh rangkaian amalan mereka berfungsi sebagai penopang. Agar kita dapat memahaminya, para pembimbing selalu mengajarkan lewat tamsil (analogi). Kekuatan malaikat ini laksana emas cair; begitu panas, namun sangat berharga. Bayangkan, kita meminta agar emas cair tersebut dituangkan ke dalam wadah plastik! Artinya, jika diri kita tidak diperkukuh dan belum teruji; jika kita tidak membangun kedirian kita, tidak membangun qalbu, tidak memperkuat amalan, serta tidak membina hakikat wujud kita, maka jalan itu justru akan membawa pada kebinasaan (fana yang menghancurkan). Energi tersebut, jika datang dan menghantam, akan meluluhlantakkan segalanya tanpa sisa.

Hal ini digambarkan dengan sangat jelas dalam Al-Qur’an, ketika Nabi Musa ‘alaihis salam memohon, “Wahai Tuhanku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” Beliau telah dianugerahi karunia untuk berbicara langsung dengan Kehadiran Ilahi (Khadiratullah). Namun, beliau menginginkan darajat (tingkatan) energi yang lebih tinggi. “Izinkan aku melihat-Mu.” Allah SWT kemudian berfirman, “Jika begitu saja, hal itu tidaklah mungkin. Jika Aku melepaskan energi itu, engkau akan menjadi khashiya; engkau akan hancur menjadi debu! Aku akan memperlihatkannya kepadamu sekarang; tataplah gunung itu. Aku hanya akan melepaskan setetes saja dari energi tersebut.” Dan hikmah dari kisah ini adalah gunung tersebut hancur lebur seketika, dan Nabi Musa pun jatuh pingsan.
وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَـٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّۭا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًۭا ۚ … ١٤٣
ywa lammâ jâ’a mûsâ limîqâtinâ wa kallamahû rabbuhû qâla rabbi arinî andhur ilaîk, qâla lan tarânî wa lâkinindhur ilal-jabali fa inistaqarra makânahû fa saufa tarânî, fa lammâ tajallâ rabbuhû lil-jabali ja‘alahû dakkaw wa kharra mûsâ sha‘iqâ, … (143)
Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.”
(Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu,1 gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan, … (143)
Al-A’raf (7:143)
Dari kisah tersebut, juga dari ajaran kenabian (sunnah) serta bimbingan para kekasih Allah (para wali dan orang-orang saleh), kita memahami bahwa apa yang kita mohonkan sesungguhnya sangat ingin Allah karuniakan. Dia berkehendak untuk melimpahi diri kita dengan cahaya-Nya, bahkan melampaui apa yang sanggup dibayangkan oleh akal manusia. Namun, para pembimbing ruhani mengajarkan bahwa cahaya tersebut hanya akan turun pada lingkungan yang bersih. Cahaya itu harus hadir di dalam wadah diri yang telah diperkukuh. Sungguh, Kamu tidak akan bisa menuangkan cahaya yang teramat suci, cahaya murni yang tak terbayangkan keindahannya, serta penuh dengan pancaran rahmat tersebut, ke dalam sesuatu yang belum disucikan (tazkiyah).
Sucikan Lahiriah Diri – Ia Adalah Bait yang Menjaga Qalbu

Para pembimbing ruhani mengajarkan kepada kita bahwa seluruh perjalanan spiritual kita sejatinya bermula dari penyucian. Sucikanlah jasad (lahiriah) karena tubuh ini merupakan bait (baitullah/kuil) yang menjaga dan menopang qalbu. Bagaimana mungkin Anda membiarkan aspek lahiriah Anda kotor, lalu berkata, ‘Sanubari saya bersih’? Keduanya—lahir dan batin—harus sama-sama lurus dan selaras. Jika qalbunya baik, maka lahiriahnya pun akan mencerminkan kebaikan. Sebaliknya, jika lahiriahnya tampak baik namun qalbunya cacat, maka terjadilah kepalsuan (kemunafikan). Para pembimbing hadir dalam kehidupan kita dan mulai menuntun kita untuk memperkukuh jasad ini. Tubuh ini adalah bait suci. Ia dipersiapkan untuk menjadi tempat bersandarnya Kehadiran Ilahi. Tubuhmu adalah Ka’bahmu; ia adalah tempat ibadahmu yang sejati. Maka, sempurnakanlah ia.
وَّطَهِّرۡ بَيۡتِىَ لِلطَّآٮِٕفِيۡنَ وَالۡقَآٮِٕمِيۡنَ وَ الرُّكَّعِ السُّجُوۡدِ ٢٦ …
… wa thahhir baitiya lith-thâ’ifîna wal-qâ’imîna war-rukka‘is-sujûd. (26)
… dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud.. (26)
Al-Hajj (22:26)
Engkau Bisa Hidup Tanpa Otak, Tetapi Tidak Tanpa Qalbu (Hati)
Kemudian, alihkan fokusmu ke dalam jasad/badan tersebut. Organ tubuh yang paling utama dan krusial adalah qalbu (hati/jantung), bukanlah kepala (otak). Manusia bahkan bisa tetap hidup tanpa fungsi kepala yang utuh. Kita sering melihat orang-orang yang terbaring koma, di mana aktivitas otak mereka sudah tidak ada lagi atau sangat minim, namun jasad mereka tetap bernyawa. Sebaliknya, tidak akan pernah ada satu pun manusia yang sanggup hidup tanpa adanya detak jantung dan qalbu. Melalui rahasia ini, Ilahi sedang mengajarkan kepada kita: perkuatlah jasadmu, sucikan lahiriahmu, lalu persiapkanlah organ qalbumu agar Limpahan Rahmat-Nya (Anugerah Ilahi) dapat mulai bernaung di dalamnya.
Cahaya malaikat tersebut akan turun membawa kekuatan dan energi yang teramat dahsyat, sehingga Allah berfirman, ‘Aku tidak akan mengirimkan cahaya itu jika ia hanya akan melelehkan dan menghancurkan segala yang ada.’ Oleh sebab itulah, diperlukan segala bentuk zikir, wirid, serta seluruh amalan penopang yang diwajibkan untuk mempersiapkan diri kita dalam menampung/menerima kedahsyatan energi tersebut.
Ilmu Laduni Menjadi Tanda Melimpahnya Cahaya Malakut

Kelimpahan serta tanda nyata dari hadirnya energi tersebut adalah terpancarnya ilmu-ilmu langit (ilmu laduni/ilmu samawi) serta berbagai keberkahan yang mengalir dari diri para kekasih Allah (orang-orang saleh). Ini bermakna bahwa qalbu mereka telah menjadi layaknya mata air yang memancarkan cahaya malakut. Salah satu buah nyata dari cahaya malakut ini adalah terbukanya pengetahuan surgawi (makrifat). Ketika seluruh eksistensi diri seseorang telah diliputi oleh cahaya dan energi malakut, maka segala hal yang keluar dari dirinya pastilah bersumber dari hakikat-hakikat langit (hakikat ketuhanan). Oleh karena itu, para pembimbing ruhani mengajarkan kepada kita: jika engkau merindukan hakikat langit, maka ketahuilah bahwa apa yang sesungguhnya sedang engkau dambakan adalah pancaran cahaya malakut itu sendiri.
Mereka yang Berbicara dari Buku, Mengajar Hanya dari Akal
Ada orang-orang yang berbicara sekadar dari apa yang telah mereka baca. Ketika mendengar mereka menyampaikannya, penjelasannya sering kali terasa hambar, tidak berjiwa, dan justru membingungkan. Ucapan itu tidak memancar dari kedalaman qalbu mereka, melainkan hanya keluar dari isi kepala (akal) mereka. Mereka baru membaca dua atau tiga kalimat hikmah, lalu langsung tergesa-gesa menyebarkannya. Biasanya, tutur kata mereka terpaku pada naskah, tertulis, dikelilingi tumpukan kitab, dan ingatan mereka harus bersusah payah merujuk ke sana-sini. Mereka adalah golongan orang-orang yang berilmu secara tekstual (kaum cendekia/ahli kitab). Kaum seperti ini selalu dihantui ketakutan bahwa mereka akan melupakan apa yang telah mereka pelajari. Oleh karena itu, mereka selalu membawa kitab-kitab mereka ke mana pun mereka pergi. Mereka mengeluarkan semuanya, menjajarkan puluhan kitab di sekeliling mereka, dan terus-menerus mencoba mencari rujukan. Ketakutan terbesar mereka adalah ilmu yang mereka pelajari itu akan menguap begitu saja, karena seiring bertambahnya usia, kemampuan akal pikiran pasti akan mulai memudar dan melupa.
Guru Sejati Mengajar dari Qalbu, Memancarkan Ilmu Ilahi dan Hikmah

Sebaliknya, kaum arifin (orang-orang bijak) tidak bergantung pada lembaran kitab. Diri mereka telah diresapi dengan hikmah, ‘ilm al-laduni wa hikmatul shalihin (Ilmu Samawi dan hikmah para kekasih Allah yang saleh). Hikmah itu bersumber dari dalam qalbu. Hikmah lahir dari melimpahnya energi malakut, sehingga begitu mereka membuka lisan, ilmu-ilmu ini, cahaya-cahaya ini, dan pancaran ruhani ini akan mengalir deras dengan sendirinya.
Maka, jika engkau mendambakan apa yang mereka miliki—di mana kita semua memang sedang mencari hakikat tersebut dan berjalan mendekat kepada berbagai mursyid—para mursyid itu akan mulai mengajarkan bahwa jasadmu harus dipersiapkan terlebih dahulu. Engkau harus mempersiapkan aspek lahiriahmu, menyempurnakannya, serta membersihkan dan menyucikannya. Sebab, engkau sedang memohon Khadiratullah (Kehadiran Ilahi) dan kehadiran malakut. Kehadiran malakut itu sejatinya selalu menyertai dan mengawasimu. Dan mereka (para malaikat) tidak akan sudi bersemayam di dalam tempat yang dipenuhi kebatilan. Hal ini karena para malaikat tunduk pada hukum ketetapan yang sama: Bahwasanya apabila kebenaran (al-haq) telah datang, maka kebatilan pasti akan sirna. Kebatilan itu akan luluh lantak, karena keduanya adalah dua hal yang saling bertolak belakang.
وَقُلْ جَآءَ ٱلْحَقُّ وَزَهَقَ ٱلْبَـٰطِلُ ۚ إِنَّ ٱلْبَـٰطِلَ كَانَ زَهُوقًۭا ٨١
wa qul jâ’al-ḫaqqu wa zahaqal-bâthilu innal-bâthila kâna zahûqâ (81)
Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. (81)
Al-Hajj (17:81)
Mursyid Sufi adalah Ahli Kimia Sejati – Mengubah Zat Besi di Dalam Jasad
Langkah selanjutnya, mulailah menyempurnakan qalbu melalui zikir, wirid, amalan, disiplin diri (riyadhah), serta muraqabah (meditasi). Dengan demikian, qalbu kini menjadi suci, dan inilah hakikat sejati dari ilmu alkimia. Orang-orang sering datang dan bertanya, ‘Apakah kaum Sufi memiliki pemahaman tentang alkimia dan cara mengubah suatu materi menjadi emas?’ Tentu saja mereka memiliki hakikat ilmu tersebut; namun mereka tidak menggunakan pengetahuan itu untuk mengubah logam materi demi tujuan keduniawian.

Yang mereka ubah adalah unsur logam di dalam seluruh eksistensi diri kita. Mereka mengambil setiap zat besi yang terkandung dalam setiap sel darah—yang membuat darah itu berwarna merah—lalu mereka mulai mengubah zat besi tersebut menjadi laksana emas yang murni dan sempurna. Mereka menjadikannya penghantar (konduktor) energi dan cahaya yang sempurna. Alhasil, setiap sel jasad, setiap serpihan zat besi di dalam tubuh, menjelma bagai emas yang telah disempurnakan. Ia disempurnakan hingga mampu terhubung secara selaras tanpa cacat dengan energi-energi Ilahi. Bahkan, setiap helai rambut di tubuh akan berfungsi layaknya antena penerima satelit. Ada berapa triliun sel di dalam jasad manusia? Dan masing-masing sel tersebut menampung setetes dari cahaya dan energi itu. Pada puncaknya, seluruh eksistensi diri manusia berubah menjadi piringan satelit raksasa yang menangkap pancaran ruhaniyat, cahaya Ilahi, energi ketuhanan, serta kekuatan malakut.
Fokuslah pada Qalbumu, Baitullah yang Sejati

Kemudian mereka mengajarkan kepada kita, dan Maulana Syekh kembali mengingatkan kita, untuk menguduskan jasadmu, menyucikan lahiriahmu. Dan di dalam jasad tersebut, tataplah sang qalbu; ia adalah Ka’bahmu, pusat dari segala fokus, poros dari segala ibadah, bait suci di dalam bait suci; masjid di dalam masjid adalah qalbu itu sendiri.
قَلْبُ الْمُؤْمِنِ بَيْتُ الرَّبِّ
“Qalbul mu’min baitur rabb.”
“Qalbu seorang mukmin adalah Bait (Rumah) Tuhan.”
(Hadis Qudsi)
Jangan Tersesat dalam Bentuk Lahiriah Ibadah dan Tempat Ritual
Banyak manusia yang tersesat dan terpaku hanya pada bentuk lahiriah dari salat (ibadah) serta formalitas mendatangi tempat-tempat peribadatan. Mereka terbelenggu oleh kemegahan kulit luar ibadah, namun membiarkan masjid batiniah mereka kotor, bait suci di dalam diri mereka bernoda, dan qalbu mereka dipenuhi kedengkian. Sungguh, tidak ada manfaat hakiki dari apa yang mereka lakukan jika demikian. Engkau boleh pergi ke mana pun yang engkau dambakan, sesering apa pun yang engkau inginkan, tetapi jika bait batiniahmu dan hakikat sejati dari qalbumu tidak dikuduskan serta tidak disucikan (tazkiyah), maka tidak akan pernah ada kehadiran malakut di dalamnya.
Oleh karena itu, para pembimbing ruhani hadir untuk mengingatkan sepanjang hayat kita bahwa seluruh syariat lahiriah itu sangatlah utama, indah, dan menenteramkan. Namun bagi kaum Sufi dan dunia tasawuf, esensinya adalah memusatkan fokus pada qalbu. Sempurnakanlah aspek fisikmu, lalu sempurnakanlah kehadiran batin di dalam qalbumu. Berdoalah, ‘Ya Rabbi (Wahai Tuhanku), hadirkanlah kekuatan malakut-Mu ke dalam qalbuku. Penuhilah qalbuku dengan pancaran cahaya-Mu.’ Jika hal itu terwujud, maka ke mana pun engkau melangkah, tempat itu akan menjelma menjadi masjid. Mengapa? Karena masjid yang sejati telah bersemayam di dalam qalbumu, dan Kehadiran Ilahi (Khadiratullah) telah menetap di dalam jiwamu. Qalbumu telah bertransformasi menjadi Ka’bah, dan dirimu sendiri telah berjalan menjadi kiblat. Menjadi kiblat bermakna bahwa saat orang-orang memandang dirimu, mereka akan menemukan kembali cahaya iman mereka yang sempat redup. Mereka menatapmu, lalu hati mereka ditenangkan oleh harapan akan hadirnya kasih sayang Ilahi.
